Jl. Pramuka Komp. Semanda Rt. 20 No. 28, Kec. Banjarmasin Timur
PPDB 2026 Telah Dibuka!

Dari MAN 2 Kota Banjarmasin ke UI, Muhammad Syafiq Akmal Buktikan Titik Terendah Bukan Akhir dari Mimpi

24 August 2026 Humas MAN 2
Dari MAN 2 Kota Banjarmasin ke UI, Muhammad Syafiq Akmal Buktikan Titik Terendah Bukan Akhir dari Mimpi
Banjarmasin (MAN 2 Kota Banjarmasin) - Kesuksesan sering kali terlihat indah ketika sampai di garis akhir. Namun, perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan mulus. Hal itulah yang tergambar dari perjalanan Muhammad Syafiq Akmal, alumnus MAN 2 Kota Banjarmasin yang kini menempuh pendidikan S1 Psikologi di Universitas Indonesia (UI).

Kisah Syafiq kembali menjadi sorotan setelah diangkat dalam feature RRI Banjarmasin berjudul “Lewati Titik Terendah, Kisah Tiga Peraih Beasiswa UI, UGM, NYU”, yang terbit pada 20 Agustus 2026. Dalam tulisan tersebut, Syafiq berbagi pengalaman ketika harus menghadapi persoalan biaya kuliah yang nyaris membuat impiannya melanjutkan pendidikan di UI terhenti.

Syafiq diterima di Program Studi S1 Psikologi UI pada 2023. Kabar bahagia itu ternyata segera berhadapan dengan persoalan besar ketika ia mengetahui besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayarkan mencapai Rp17,5 juta per semester. Bagi keluarga Syafiq yang berasal dari Banjarmasin dan kedua orang tuanya merupakan PNS daerah, nominal tersebut menjadi beban yang sangat berat.

“Itu sangat besar. Saya ngerasa akan sangat susah untuk orang tua membiayai itu,” ungkap Syafiq sebagaimana dikutip RRI ketika mengenang masa tersebut.

Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, kondisi itu membuat Syafiq tidak ingin begitu saja menyerah. Ia berupaya mengajukan banding dengan melengkapi berbagai dokumen dan menjelaskan kondisi ekonomi keluarganya. Namun, pengajuan tersebut tidak berhasil mengubah besaran UKT yang telah ditetapkan.

Di tengah situasi yang semakin sulit, Syafiq justru menemukan peluang lain. Ia mengetahui adanya Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek Tahun 2023 dan memutuskan untuk mencobanya. Beasiswa tersebut kemudian menjadi jalan keluar agar ia tetap dapat mempertahankan mimpinya berkuliah di UI.

Perjuangan tersebut tidak mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menulis esai bertema “Kontribusiku untuk Indonesia Emas 2045”. Syafiq mengaku belum memiliki banyak pengalaman menulis esai dan tidak memiliki mentor yang dapat membimbingnya secara langsung. Ia pun belajar secara mandiri, menyusun gagasan, memperbaiki tulisan, dan menghubungkan pengalaman yang dimilikinya dengan bidang ilmu psikologi yang sedang ditempuh.

Pengalaman selama menjadi murid MAN 2 Kota Banjarmasin, termasuk keterlibatannya dalam kegiatan debat, menjadi salah satu pengalaman yang ia jadikan modal untuk membangun gagasan dalam esai tersebut. Data yang tersedia juga mencatat Syafiq sebagai murid MAN 2 Kota Banjarmasin pada periode 2020–2023 serta pernah aktif dalam organisasi dan kegiatan debat di madrasah.

Tantangan berikutnya datang ketika memasuki tahap wawancara. Tanpa persiapan yang sempurna, Syafiq memilih untuk tampil apa adanya dan menyampaikan alasan serta tujuan yang ingin dicapainya.

“Saya putuskan, ya sudah, jawab saja sebisa saya. Terlepas dari urusan ekonomi, kenapa sih kita layak? Selama kita tahu apa yang ingin kita dampakkan, tetap menjadi diri sendiri,” tuturnya.

Usahanya akhirnya berbuah hasil. Syafiq dinyatakan lolos sebagai Awardee Beasiswa Unggulan 2023. Beasiswa tersebut menanggung biaya kuliahnya secara penuh sekaligus memberikan uang saku bulanan. Dengan demikian, persoalan UKT yang sempat menjadi ancaman bagi kelanjutan studinya berhasil ia lalui.

Namun, keberhasilan tersebut ternyata bukan akhir dari perjalanan. Pengalaman menghadapi kesulitan justru menjadi modal bagi Syafiq untuk terus mengembangkan dirinya. Pada 2026, ia tercatat meraih penghargaan sebagai Most Outstanding Student pada rumpun Sosial Humaniora Universitas Indonesia. Profil akademiknya juga mencatat berbagai pengalaman organisasi, debat, riset, serta kegiatan pengembangan diri selama menempuh pendidikan di UI.

Bagi keluarga besar MAN 2 Kota Banjarmasin, perjalanan Syafiq menjadi cerita yang layak dibagikan kepada generasi madrasah saat ini. Bukan semata-mata karena ia berhasil masuk UI atau memperoleh beasiswa, tetapi karena proses yang dilaluinya menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti.

Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa pengalaman yang diperoleh selama berada di madrasah dapat menjadi bekal ketika peserta didik memasuki lingkungan pendidikan yang lebih luas. Kemampuan berorganisasi, berkomunikasi, berdebat, menyusun gagasan, dan berani mengambil kesempatan menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk dirinya.

Perjalanan Syafiq sekaligus menjadi pesan bagi murid MAN 2 Kota Banjarmasin bahwa jalan menuju perguruan tinggi terbaik tidak selalu terbuka dengan mudah. Ada kalanya seseorang harus berhadapan dengan persoalan finansial, kegagalan, rasa minder, bahkan situasi yang membuat hampir menyerah.

Namun, sebagaimana tergambar dalam kisahnya, titik terendah tidak harus menjadi tempat untuk berhenti. Ia dapat menjadi ruang untuk menemukan keberanian, mencari jalan keluar, dan membuktikan bahwa sebuah mimpi masih layak diperjuangkan.

Saat dikonfirmasi dikesempatan berbeda, Kepala MAN 2 Banjarmasin, Dr. H. Abdul Hadi, M.PKim., menyampaikan apresiasi terhadap capaian para alumninya yang terus berkembang setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah.

“Kami tentu merasa bangga. Syafiq adalah bagian dari keluarga besar MAN 2 Banjarmasin. Perjalanannya menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya lahir dari kondisi yang serba mudah, tetapi juga dari kemauan untuk berusaha ketika menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman Syafiq dapat menjadi inspirasi bagi murid MAN 2 Kota Banjarmasin untuk berani menetapkan cita-cita sekaligus mempersiapkan diri sejak dini.

“Pesan kami kepada anak-anak, jangan takut bermimpi tinggi. Kalau ada kendala, jangan langsung menganggap itu sebagai akhir. Cari jalan, belajar, bertanya, dan terus berusaha. Yang penting jangan kehilangan keyakinan bahwa setiap ikhtiar memiliki jalan keluarnya,” tambah Abdul Hadi.

Kisah Muhammad Syafiq Akmal akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang alumnus yang berhasil mendapatkan beasiswa dan menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik Indonesia. Lebih dari itu, ia adalah cerita tentang keberanian menghadapi keadaan, kesediaan belajar ketika tidak memiliki banyak pilihan, dan kemauan untuk tetap melangkah ketika jalan terasa hampir tertutup.

Dari MAN 2 Kota Banjarmasin, Syafiq membawa satu pelajaran penting yakni mimpi tidak selalu membutuhkan jalan yang mudah, terkadang ia justru membutuhkan seseorang yang bersedia tetap berjalan ketika jalan itu terasa sulit.

Penulis : Taufik
Foto : Istimewa
Redaktur/Editor : Riduan

Komentar (0)

Tinggalkan Jejak Anda
Belum ada komentar Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada berita ini!