Sosialisasi Sekolah? Bukan Sekadar Pencitraan


Oleh Akhmad Hasbi Wayhie (Wakamad Humas)

Era globalisasi yang pada hakikatnya hanya ditopang oleh kemajuan teknologi dan pesatnya arus informasi mengharuskan siapapun atau lembaga apapun tidak bisa berdiam diri berpangku tangan menghadapi tantangan zaman ini. Termasuk di dalamnya dunia pendidikan.
Kita menyadari, sedari dulu dunia pendidikan sudah berupaya mengimbangi kemajuan zaman ini dengan berbagai daya dan upayanya. Meski pada tataran ideal, yang diharapkan dari dunia pendidikan adalah kemampuannya berakselerasi jauh melampaui batasan zaman. Bukan sekadar mengejar dan mengimbangi.
Dengan demikian, perubahan adalah sebuah kenisayaan. Sekolah dalam hal ini perlu melakukan terobosan, inovasi-inovasi perlu digalakkan agar eksistensi sekolah tidak tergilas zaman. Dalam artian program yang diciptakan semakin mengukuhkan keunggulan sekolah dan kemampuannya berdaya saing mengahadapi era globalisasi.
Pada wacana demikian, iklim kompetitif yang sehat dan bermartabat harus tetap dijaga agar kemudian tidak tercipta hukum rimba, saling menjelekkan dan saling menjatuhkan. Dipersilakan masing-masing sekolah berlomba-lomba mempresentasikan program-program unggulanya lewat sosialisasi. Silakan gunakan berbagai media. Dan marilah berkompetisi dengan sehat.
Lalu apa dampak dari program sosialisasi ini? Jika kita cermati, program sosialisasi yang kian gencar dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan jelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ini sesungguhnya merupakan hal yang positif bagi masyarakat, terlebih bagi orang tua/wali peserta didik atau peserta didik sendiri yang sangat memerlukan keragaman informasi.


Akan tetapi, mengingat adakalanya program sosialisasi membawa serta misi promosi bukan sekadar berbagi informasi saja, pada konteks ini pulalah masyarakat atau orang tua/wali peserta didik harus bijak dalam menyerap informasi yang diterima. Kewaspadaan mutlak diperlukan agar kelak tidak mendapatkan ‘indah kabar daripada rupa.’ Pada situasi ini, data dan informasi yang diterima haruslah dianalisis agar dapat menjadi salah satu pertimbangan membuat keputusan tentang pilihan sekolah yang dipilih.
Ilustrasi sedemikian dapat digambarkan seperti ini. Pada masa kekinian, ambil contoh, Kementrian Agama membuat kebijakan diversifikasi (penganekaragaman) madrasah yang mengintrodusir keberagaman inheren madrasah. Pemerintah-dalam hal ini Kementrian Agama-memberikan kebebasan kepada madrasah untuk berkembang sesuai dengan potensinya sendiri.
Oleh karena itu, pada tahun 90-an kita mengenal madrasah unggulan, madrasah model dan madrasah satu atap. Sedangkan dewasa ini, Direktorat Pendidikan Madrasah mengintrodusir prototipe madrasah, diantaranya adalah madrasah akademik (yang di dalamnya ada Madrasah Insan Cendekia, Madrasah Riset sebagai sebagai pencetak para akdemisi dan periset), Madrasah Keagamaan (yang di dalamnya ada Madrasah Aliyah Program Keagamaan/ MAPK, sebagai pencetak kader ulama) dan Madrasah Keterampilan (vokasional, yang mencetak para wirausahawan).
Di wilayah Kalimantan Selatan sendiri, ada empat tipologi madrasah yakni MAN Insan Cendekia, MAN Keagamaan, MAN Penyelenggara Program Keterampilan dan MAN Umum. Masing-masing madrasah mempunyai spesifikasi dan ciri khas tersendiri.
Untuk satu kementrian saja terdapat ragam pilihan, belum ditambah dengan kementrian lain yang juga menyelanggarakan pendidikan. Keragaman pilihan inilah yang perlu diinformasikan, perlu disosialisasikan agar masyarakat mendapatkan pemerataan informasi, dari ujung daerah ke ujung daerah lainnya bukan hanya berpusat di kota besar saja.
Meski demikian, disinilah letak peran serta orang tua dan guru-terlebih guru Bimbingan Karier- untuk mengarahkan dan memberikan pandangan ke pada peserta didiknya. Jika anak didik tersebut memang punya potensi di bidang akademik, bakat dan minat serta kemampuannya ada pada bidang tersebut maka arahkanlah pada sekolah/madrasah yang memang didesain untuk hal itu. Begitupun dengan pilihan sekolah lainnya.
Sekadar berbagi pengalaman, sebagai panitia PPDB tak jarang calon peserta didik yang mendaftar ke sebuah sekolah dilandaskan pada asas pertemanan, hanya berdasar pada keinginan orang tua, serta tak jarang cuma terpengaruh nama besar sebuah sekolah. Sama sekali tidak berasas pada kemampuan bakat dan minat sendiri.
Alhasil program sosialisasi yang marak dilakukan jelang PPDB ini janganlah sekadar bertujuan pencitraan belaka dengan program iming-iming yang ujung-ujungnya hanya sekadar berupaya menarik jumlah siswa sebanyak-banyaknya. Lakukanlah promosi dan sosialisasi dengan asas agar terjadi pemerataan informasi. Bersekolah di sekolah unggul atau favorit bukanlah hanya hak orang kota atau orang kaya saja, tetapi hak semua warga Indonesia.
(Penulis merupakan anggota Tim Sosialisasi MAN 2 Model Banjarmasin)

 

Previous Rayakan Hari Bahasa Arab Sedunia, MAN 2 Model Gelar Bazar dan Nobar Film
Next Keterampilan Tata Boga Ekspos Hasil Olahan Kuliner

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.